Rabu, 16 Maret 2016 0 comments

Komik (21) : 5 Perkara Dalam Hidup


Jumat, 19 Februari 2016 0 comments

Komik (20) : Ilmu, Petunjuk dan Hujan


Selasa, 16 Februari 2016 0 comments

Notes72 : Marilah Berdiri

Merasakan semangat kaum beriman. Selalu haus akan hangatnya berbagi dan ikhlasnya menjadi seorang abdi. Hanya satu kerinduan dan satu tujuan utama dalam setiap hembusan nafas. Kampung akhirat yang sangat diidam-idamkan dan dicapai dengan curahan jiwa, waktu dan hartanya.

Ketika jalan yang diridhoi-Nya telah nampak diiringi bukti janji-Nya yang tak kurang sedikitpun, apakah berdiam diri dan membatasi diri masih kau pilih. Harga yang perlu dibayar itu tak murah ataupun juga mahal. Cucuran air mata dan keringat dalam jalan mencari keberkahan dan rahmat-Nya adalah sebuah bayaran dalam sebuah perniagaan yang agung dan suci. Itulah kisah kasih untukmu para pejuang.

Balasan dari sebuah perjuangan mencari kebenaran akan lahirnya kehidupan di dunia. Bukan untuk memenuhi diri dengan keindahan dunia, ataupun mengisi setiap kantong baju dan celana kita dengan kenikmatan yang bila tak kau jaga akan menghanyutkanmu dalam lautan bernama ketamakan dan rasa sombong. Apakah tujuan hidup manusia hanya sebatas hidup. Apakah kematian tak perlu dipersiapkan.

Mereka hidup berpasang-pasangan. Menempuh sebuah perjalanan menjadi seorang ayah dan ibu bagi keturunannya. Menimba ilmu dari setiap gelombang yang menghantam bahtera besar bernama rumah tangga. Karena berbuat kebaikan akan menjadi lebih mudah dan lebih luas walau terasa sempit. Tak menjadi alasan ketika agama yang telah disempurnakan maka menjadi keyakinan bahwa sudah tak perlu ditambah lagi. Karena kesempurnaan hadir bukan hanya lengkapnya tulang rusuk tapi tercapainya tujuan untuk mencapai keberkahan. Yaitu membentuk jalinan kebaikan yang terikat dan tak putus-putus.

Memang iman kadang dirasa tak hadir setiap waktu. Tapi itulah tantangannya dalam mencapai ketaqwaan yang setiap hari jum’at diagung-agungkan untuk dapat kita raih. Agar iman selalu hadir walau kita tengah terlarut dalam kesenangan, ataupun kita larut dalam kesedihan. Untuk iman yang datang besama dengan ketaatan dan menghilang dengan banyaknya maksiat. “Sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena segala keadaan untuknya selalu sangat baik dan hal ini tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi orang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya, dan bila menderita kesusahan ia sabar, maka sabar itu lebih baik baginya.” (HR Muslim)


Masih banyak yang perlu dibenahi. Masih sedikit yang sudah disiapkan. Marilah berdiri.
Jumat, 01 Januari 2016 0 comments

Notes71 : Rapat dan Lurus

Tak satupun yang berbeda antara malam ini dengan malam sebelumnya. Matahari masih tertidur, bulan sedang malu-malunya bersembunyi dalam selimut awan, dan bintang-bintang masih senang bertengger manis di tempatnya masing-masing. Yang berbeda hanya terasa lebih ramai saja dengan banyaknya kembang api yang melesat dan mewarnai langit gelap ini. Tak sedikit juga masyarakat yang masih terjaga sampai waktu fajar. Tak begitu jelas apa yang mereka nantikan. Hanya sayup-sayup terdengar teriakan menghitung mundur waktu menuju tengah malam.

Senang sekali dengan hitung mundur menuju pergantian tahun. Namun tak sedikit yang kadang lupa menghitung mundur waktunya di dunia. Akankah mentari esok masih dapat kita lihat saat kita dibuat terlelap tidur. Atau memang terlalu sombong untuk mengakui bahwa tubuh yang selama ini sedang dikenakan tak akan kembali menjadi tanah.

Pagelaran yang terasa sangat dimegah-megahkan tiap tahunnya. Tak pernah ada dasarnya mengapa perayaan tersebut begitu spesial. Hanya momen luapan euforia yang kembali membangkitkan kebiasaan untuk berlebih-lebihan dan sejatinya tidak begitu pantas melihat kondisi sekitar yang masih serba kekurangan.

Tak pernah ada yang melarang. Hanya menjadi sebuah kesia-siaan saja bila perayaan hanya sebatas amalan-amalan kosong atau bahkan sebuah kemaksiatan yang terlaknat sangat.

Apakakah ini juga merupakan bukti kurangnya atau bahkan tidak rapatnya shaf yang dikatakan seorang aktor yang melakoni seorang kyai dalam film semalam.



“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff : 4)

“Sungguh luruskanlah shaf kalian, atau (jika tidak) Allah akan benar-benar menimbulkan perselisihan di antara wajah-wajah kalian.” (HR Bukhari-Muslim)


Hikmah yang telah dititipkan dalam berbagai kejadian demi kejadian dalam hidup kita semoga tak kita hiraukan. Karena kebaikan selalu memiliki jalan untuk keluar dalam lubang sesempit apapun. Mungkin juga menjadi momen pengingat dan merupakan kesempatan untuk mengikat kembali silaturahmi yang sudah longgar.
 
;